Mulai Hari ini, Harga Minyak Goreng Rp. 11.500/liter



Jakarta (LU) - Kementerian Perdagangan secara resmi menurunkan kembali harga minyak goreng dari yang semula Rp. 14 ribu menjadi Rp. 11.500 perliter, penurunan harga itu mulai berlaku hari ini (1/2).


Harga tersebut merupakan harga yang berlaku di pasaran atau harga eceran tertinggi (HET) khususnya untuk kemasan curah atau biasa, sedangkan untuk kemasan sederhana harga eceran tertingginya yakni Rp. 13.500 perliter dan untuk minyak goreng kemasan premium dijual seharga Rp. 14 ribu perliter.


Harga ini juga sudah termasuk harga pengenaan pajak lagi, dengan demikian pedagang tak lagi bisa beralasan bahwa harga HET yang berlaku pasca penurunan harga minyak goreng adalah harga sebelum pajak.


Menteri Perdagangan, M. Lutfi kepada wartawan menjelaskan hal tersebut,"harga HET yang berlaku itu sudah termasuk didalamnya PPN, jadi itu harga riil di pasaran," jelas M. Lutfi.


M. Lutfi juga memastikan jika sejauh ini, stok minyak goreng masih dalam keadaan cukup, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir apalagi melakukan panic buying dalam jumlah besar yang membuat pasokan minyak goreng menjadi langka.


"Stok kami jamin cukup dan tersedia, jadi masyarakat tak perlu khawatir apalagi sampai melakukan aksi panic buying atau membeli dalam jumlah banyak yang bisa membuat kelangkaan," terangnya lagi.


Sangsi Kepada Penjual Minyak Goreng Diatas HET


Tak cukup sampai disitu saja, Menteri Perdagangan juga menegaskan jika terdapat pelaku usaha maupun pedagang yang menjual harga minyak goreng diatas harga HET yang berlaku.


"Pemerintah akan melakukan langkah hukum tegas terhadap pelaku usaha atau pedagang yang melanggar ketentuan ini, jadi jangan sampai ada yang menjual harga minyak goreng melebihi harga yang telah ditentukan oleh pemerintah," tegasnya lagi.


Namun sejauh ini, berdasarkan pantauan Lampung Update di sejumlah pasar menunjukkan jika pasokan minyak goreng masih amat langka jikapun ada harganya masih sangat mahal bahkan mencapai Rp. 18 ribu perliter meskipun pemerintah sudah menurunkan kembali harga minyak goreng dari Rp. 14 ribu menjadi Rp. 11.500 perliter.


Harga Distributor Masih Mahal


Beberapa pedagang minyak goreng yang ditemui di sejumlah pasar seperti Pasar Way Kandis, Pasar Sukarame, Pasar Tugu menyebutkan jika harga ditingkat distributor masih relatif tinggi sehingga membuat pedagang terpaksa menjual hingga Rp. 18 ribu perliter.


"Jual dengan harga segitu juga kami untungnya tipis mas," ujar salah seorang pedagang minyak goreng.


Minyak Goreng Langka


Disisi lain, kelangkaan minyak goreng terjadi di hampir seluruh pasar ritel seperti Alfamart maupun Indomaret yang terhitung mudah dijangkau oleh masyarakat.


Di Alfamart maupun Indomaret wilayah Sukarame sudah sejak beberapa hari terakhir mengalami kekosongan, hal yang sama juga terjadi di gerai Indomaret dan Alfamaret di wilayah Way Kandis, Way Halim, dan Sukabumi hingga wilayah Jatiagung.


Oleh karenanya masyarakat mendesak agar pemerintah serius menindak pedagang maupun pelaku usaha ritel yang sengaja menimbun minyak goreng untuk memperoleh keuntungan yang besar.


"Percuma harga minyak goreng diturunkan juga, karena barangnya dimana-mana kosong, kalaupun ada, harganya juga nggak Rp. 14 ribu apalagi Rp. 11.500 perliter tapi bisa mencapai Rp. 16 ribu perliter," keluh Rina Yanti warga Jatiagung. 


Pedagang Gorengan Tak Berdaya


Hal yang sama juga diakui oleh Yanto, pedagang gorengan di Jalan Sultan Agung, Way Halim, yang tak berdaya karena kelangkaan minyak goreng sehingga berpengaruh terhadap usahanya.


"Terpaksa di saring lagi, kalau masih bisa dipakai, tetap kita pakai, kalau tidak terpaksa pemakaian minyak goreng harus dihemat-hemat," keluhnya.


Padahal, rata-rata dalam sehari ia membutuhkan paling sedikit 10 liter minyak goreng untuk berjualan gorengan, namun karena ketiadaan minyak goreng ia mengaku mengalami kerugian.


"Kalaupun ada yang jual harganya mahal sekali, sedangkan saya cuma jualan gorengan yang harganya tidak saya naikkan, karena kalau harga gorengannya dinaikkan pasti sepi pembeli," akunya lagi.


Orang Kaya Timbun Minyak Goreng


Pasca turunnya harga minyak goreng beberapa waktu lalu, disambut oleh sejumlah masyarakat khususnya dari kalangan menengah ke atas yang diduga melakukan pembelian minyak goreng dalam jumlah yang besar atau sengaja ditimbun karena khawatir stok minyak goreng akan mengalami kelangkaan.


Hal ini juga diakui oleh Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, Oke Nurwan yang menyebut salah satu penyebab kelangkaan minyak goreng juga disebabkan karena adanya masyarakat yang memborong habis stok minyak goreng di berbagai minimarket.


Padahal, lanjutnya, produsen minyak goreng selalu menyuplai kebutuhan minyak goreng bahkan sudah ditambah pasokannya namun tetap mengalami kelangkaan.


Permainan Mafia Minyak Goreng


Kian maraknya kelangkaan minyak goreng yang tak hanya terjadi di Lampung tapi juga merata di hampir seluruh wilayah yang ada di Indonesia.


Bahkan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyebut adanya dugaan jika kelangkaan minyak goreng ini karena adanya permainan para mafia yang mengarah ke penimbunan serta praktek kartel terhadap monopoli minyak goreng.


Ketua YLKI Tulus Abadi bahkan meminta pemerintah serius dan mengungkap kemungkinan adanya praktek kartel khususnya pelaku usaha skala besar yang bermain di balik kelangkaan minyak goreng ini.


"Pemerintah harus serius membongkar ini, karena masyarakat di seluruh wilayah di Indonesia sudah kesusahan memperoleh minyak goreng," kata Tulus Abadi seperti dikutip dari detikcom.


Praktek penimbunan minyak goreng ini, lanjutnya, telah melanggar undang-undang, karena hal ini sudah menjurus kepada mafia minyak goreng.


"Sebab yang kosong adalah harga minyak goreng yang disubsidi saja," jelasnya lagi. (LU-09)


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama